Friday, April 6, 2012

Indonesian Idol 2012

Siapa yang ga tau indonesia idol 2012 yang sekarang masuk babak 12 besar audisi indonesian idol 2012 emang seru abis sayang untuk dilewatkan selain seru juga menghibur karena ada beberapa kontestan yang lucu, untk juri indonesian idol ada 3 kali ini yaitu anang hermansyah dhanny ahmad dan yang cewek adalah agnes monica semuanya adalah penyanyi papan atas di indonesia.




kemaren emang ada kabar yang kurang enak berhubungan dengan dilaporkan juri indonesian idol ke kpi karena disinyalir omongan nya yang agak menyinggung peserta yah namnaya juga juri kan biasa seenaknya ngomong gitu dah resiko peserta untuk diejek dan sebagainya.

Buat yang ingin melihat indonesia idol liat saja di rcti ya siapa tau kamu suka dan kamu mengirimkan pesan sms ke mereka yang kamu minati semoga saja idola kamu ga akan tersingkir dari indonesian idol 2012 kali ini ya...

Kunjungi terus berita terbaru karena akan selalu ada berita terbaru yang mungkin saja kamu belum baca dan kamu buthkan informasinya sampai jumpa besk mas mbak bro...

Thursday, April 5, 2012

Cerita Sex Abg 17 18 Tahun Ke Atas

Cerita Sex Abg ini semoga aja bisa menambah koleksi cerita dewasa disini dan bisa menyenangkan kamu semua pecinta cerita dewasa dan juga cerita sex karena dengan kamu senang maka sy pun senang bisa banyak pembaca di tempat ini, nah silahkan saj langsung di baca dan jika masih kurang sudah tau kan harus lihat dimana ya di kategori cerita dewasa ya...

Adek cewek yang seksi

Kubelokkan mobilku masuk ke halaman parkir gedung tua itu. Entah kenapa bibirku seolah memaksaku untuk tersenyum lebar. Tapi, sesaat kemudian aku tersadar… Terlalu banyak kenangan manis yang disimpan gedung ini.

“… Kangen ya sama sekolah ini.”

Aku mengangguk dan tersenyum pada Cherry yang duduk di sebelahku, seolah dia mengerti apa yang aku pikirkan. Aku yakin sahabatku ini juga memikirkan hal yang sama. Bagaimana pun kami menghabiskan 12 tahun masa SD hingga SMA di sekolah yang sama. Cherry dan aku datang bersama ke bekas sekolah kami hari itu karena keperluan kami masing-masing; Cherry harus melatih anak-anak The Foxes (grup modern dance sekolahku) yang akan tampil di kejuaraan dance akhir tahun, sementara aku datang untuk menemani Vany, adikku, menonton sparring tim basket putri SMP. “Lu latian sampe jam berapa?” tanyaku pada Cherry sambil keluar dari mobil. “Jam… 4an gitu lah…” katanya sambil melirik arloji. “Kan latian mulai jam 2. Basket sampe jam berapa?” “Mungkin sekitar jam 3… Gapapa ntar pulang bareng aja,” jawabku. “Hah? Terus sejam…? OOHH!! DASAR LU!” ujar Cherry sambil tertawa dan memukul lenganku. “Hahahaha… Udah lama tau ga di sekolah,” jawabku sambil nyengir. “Ih… Mesum dasar. Belom pernah kan ya sama Vany di sekolah? Dulu sama gue terus kan lu… Hehehe,” kata Cherry. “Hehehe makanya…”

Menonton sparring basket memang bukanlah satu-satunya tujuanku datang ke sekolah ini. Aku ingin ML dengan Vany di gedung sekolah ini! Aku ingin mengenalkan perasaan seru dan deg-degannya ML bukan di rumah pada adikku.

“Eh tapi lu jangan terlalu nafsu lah… Kasian dia lagi hamil gede gitu masih lu hajar juga…” kata Cherry perlahan saat kami berjalan masuk. “Iyaa… Lagian dianya yang tambah nafsu tau,” kataku membela diri. Cherry nyengir. “Iya sih katanya emang cewek hamil jadi tambah nafsu…”

Ya, Vany, adikku yang berusia 15 tahun, memang sedang hamil. Vany mengandung anakku, kakaknya sendiri, dan sekarang kandungannya sudah mencapai bulan kelima. Sejak bulan Juni yang lalu hubunganku dengannya memang bergeser jauh dari selayaknya hubungan kakak-adik; mulai dari saling menyentuh tubuh satu sama lain, hingga akhirnya kami ML berkali-kali sebelum aku pindah untuk kuliah di Singapore, dan akhirnya Vany hamil (baca episode 5). Dan entah kenapa, menurutku Vany (yang pada dasarnya sudah sangat seksi untuk anak seusianya) menjadi jauh lebih seksi saat ia hamil. Perutnya yang buncit dan mulus selalu merangsangku, dan dadanya yang luar biasa montok dan besar (34DD sekarang) bisa mengeluarkan susu yang manis sekarang. Selain itu vaginanya menjadi lebih sempit dan hangat di bagian dalam, di samping pantatnya yang menjadi semakin montok dan padat. Sungguh luar biasa!

“Hus! Tuh kan udah ngebayangin… Dasarrrr!” bisik Cherry sambil mencolek bagian tengah celanaku yang sudah mulai menonjol. “Lu ngapain sama dia tadi pagi?”

Tadi pagi setelah aku puas meremas dan menyedot susu dari dadanya yang montok, akhirnya Vany men-titf*ckku dengan nikmat hingga aku meledakkan spermaku banyak-banyak di wajahnya. Untung ia tidak telambat sampai di sekolah. “Duh… Susah dijelaskan dengan kata-kata, Cher…” jawabku. Cherry menggelengkan kepalanya sambil nyengir.

Aku dan Cherry berjalan memasuki gedung SMA sekolah kami. Saat itu jam pulang sekolah, sehingga situasi sangat ramai. Setelah menyapa beberapa adik kelas yang mengenal kami, Cherry bergegas ke arah tangga yang akan membawanya ke ruang latihan tari.

“Oke sampe ketemu ntar sore! Inget Dit jangan terlalu nafsu!” ujar Cherry mengatasi keributan suara anak-anak. Aku melotot memperingatkan, tapi sahabatku ini nyengir nakal, menjulurkan lidah, dan berjalan menjauh ke arah tangga. Aku menggelengkan kepala sambil memperhatikannya pergi… Eh? Sepertinya ada yang berbeda dari Cherry.

Menyadari aku masih terpaku menatapnya, sahabatku menoleh. “Hus! Jangan melototin pantat gue terang-terangan gitu ah…” katanya perlahan sambil kembali berjalan mendekat. Aku tertawa. “Haha… Nggak lah… Lu… Agak lain deh,” kataku jujur. “Hm? Lain apanya?” “Gatau… Lu tambah berat ya?” tanyaku. Cherry mengernyit. “Eehh kurang ajar ya…!” jawabnya gengsi. Tapi kemudian ia tersenyum… Penuh arti. “Koq senyum gitu?” “Emang ga boleh? Eh udalah gue udah mau telat ini!” ujarnya sambil melirik arloji lagi. Aku nyengir dan meremas pantat sahabatku yang super montok. “Yaya… Sampe ketemu ntar sore…” “Eh nakal ya tangannya!” bisiknya sambil berbalik dan berlari menaiki tangga, memamerkan pantatnya yang bulat dan besar di balik celana trainingnya yang merah terang. Aku tersenyum saat memandangnya pergi… Tapi sungguh, sepertinya ada yang lain dari Cherry. Hmm… Tak apalah.

Aku berjalan perlahan ke arah gedung olahraga sekolahku. Aku bisa mendengar suara decit sepatu para pemain dan sorakan penonton, juga suara debam bola basket yang didribble oleh para pemain. Pertandingan sudah dimulai rupanya. Gedung olahraga⎯saat sedang dilangsungkan pertandingan di dalamnya⎯ selalu terasa panas dan memberi ketegangan tersendiri saat dimasuki, begitu pula saat ini.

Masuk, aku menoleh ke kanan dan kiri, mencari Vany… Tidak sulit. Selain karena perut buncitnya yang menyembul di balik kemeja putih seragam SMPnya, jumlah penontonnya sedikit, dan Vany ternyata duduk di dekat bangku cadangan tim sekolahku. Aku tersenyum. Tentu saja, Vany adalah kapten tim basket putri SMP sebelum ia hamil.

Raut muka adikku terlihat sangat serius memperhatikan pertandingan. Aku menoleh ke papan skor; quarter pertama, 12-10 untuk sekolahku. Ketat. Aku berjalan mendekat ke arah Vany. Vany begitu berkonsentrasi pada pertandingan hingga tidak menyadari saat aku duduk di sebelahnya. Aku melambai pada Tasya (panggilan dari Natasha), adik Grace mantan pacarku dan salah satu sahabat terbaik adikku, yang menyenggol lengan Vany dan mengangguk ke arahku sambil tersenyum. Vany tersadar dan menoleh.

“Eehh Kak… Aku ga nyadar Kakak dateng!” ujarnya riang sambil nyengir. “Hahaha gapapa… Kamu serius banget ngeliatin anak-anak,” kataku. “Iya… Musuhnya jadi jago nih,” jawabnya serius, kembali melihat ke lapangan. Saat itu seorang pemain sekolah lain memblok passing tim sekolahku dan menyetak angka 3 points. Vany merengut. “Passingnya.. Aduh… JESSICA KONSEN!!!” Vany meneriaki seorang pemain sekolah kami yang tidak kukenal. Jessica mengacungkan jempol ke arah kaptennya, tampak gugup. “Ini pertama kali dia main dari awal sih…” kata Tasya di sebelah Vany. “Point Guard ya dia?” tanyaku pada Vany sambil mengamati Jessica, cewek mungil, kira-kira setinggi adikku, dengan rambut dikuncir ekor kuda. Adikku mengangguk. “Dia yang gantiin aku jadi point guard. Kelas satu.” “Erika mana?” tanyaku lagi. Aku kenal Erika; point guard cadangan Vany, kelas 2. “Keseleo kemaren pas latian,” jawab Tasya. “… Padahal kalo pas latian keliatan gesit banget loh si Jessica ini,” kata Vany. Natasha mengangguk, membetulkan kacamatanya. “Gesitnya sih sama kayak lu, Van, tapi sering ga konsen… Terus belon begitu berani maennya. Ya masih kelas satu sih… Ntar juga jadi jago,” katanya. Vany mengangguk setuju. Aku pun menyadari bahwa Jessica bergerak sangat gesit, hanya ⎯ tidak seperti Vany ⎯ operannya masih sering meleset dan mudah dibaca lawan.

Aku mengenal beberapa pemain basket tim putri SMP karena mereka adalah teman-teman adikku. Agnes sang Center bertubuh tinggi besar baru saja mencetak angka. Kedudukan sekarang 14-13. Aku nyengir menikmati pertandingan ini. Sudah lama aku tidak menonton pertandingan basket seperti ini. Kulirik Vany yang duduk tegang di sebelahku… Sepertinya ia sudah lupa bahwa ia sedang hamil 5 bulan. “Van, santai dikit… Inget kamu lagi hamil ga boleh tegang-tegang,” kataku pelan padanya. Vany tersadar dan nyengir, mengelus lenganku dengan sayang dan mulai duduk bersandar ke tembok. “Hehehe iya kalo udah seru nonton basket gini suka lupa,” katanya sambil mengelus-elus perutnya yang buncit. Aku merasa penisku mulai tegang, entah kenapa.

Terdiam, menonton lagi. Aku memperhatikan adikku… Kemejanya terlihat sangat sempit menahan dua tonjolan montok dadanya, ditambah dengan perutnya yang buncit menggiurkan. Aku melihat pundaknya… Hm? Biru muda? “Van, kamu pake BH biru muda ya…” bisikku perlahan. Vany memukul lenganku sambil tertawa. “Koq liat sih? Emang keliatan dari balik baju?” bisiknya balik. Aku mengangguk, nyengir. “Yang tadi pagi putih basah ya…” “Kena susu sama sperma! Kakak sih!” desis Vany sambil mencubit lenganku. Aku tertawa. “Kamu seksi, Van…” “Hus! Kak…”

* * *

“Tapi bagaimana pun emang hebat kan anak-anak…” “Iya sih… Cuma maennya bikin deg-degan tipis- tipis gitu,”

Aku dan Vany sedang berjalan perlahan menyusuri koridor dari gedung olahraga menuju ke gedung utama sekolah kami. Pertandingan sudah berakhir, dimenangi oleh SMP ku dengan skor tipis 38-34. Vany agak bersungut-sungut dengan hasil ini, karena saat ia bermain dulu SMP kami pernah membantai mereka 60-8. Benar-benar tidak diberi kesempatan.

“Udalah, Vann… Jangan bete gitu donk,” ujarku menghiburnya. “Hmm… Coba aku maen,” katanya. Tiba-tiba ia geli sendiri dengan perkataannya dan terkikik. “Ga mungkin ya… Hihihi…” “Dasar…” kataku. Vany menggamit lenganku dan menyenderkan dirinya padaku dengan sayang. Kami berjalan dalam diam perlahan menyusuri koridor sekolah, menuju ke lantai empat, ke tempat Cherry latihan dance. Sambil berjalan, Vany membelai-belai perutnya yang buncit; sungguh entah kenapa setiap kali aku melihatnya melakukan itu ada rangsangan sangat besar yang menyerangku. Sembunyi-sembunyi aku membetulkan penisku yang tegang di balik celana jeansku.

“Kita pulang sekarang?” tanya adikku setelah beberapa lama. Aku menggeleng. “Nggak… Nunggu Cherry kelar latian MD,” jawabku. Vany melirik arlojinya. “Jam?” “Empat…” “Loh ini baru jam 3 kurang… Kita ngapain sejam?” tanyanya, polos.

Ketika itu kami telah sampai di depan kelas kosong di ujung koridor lantai empat yang dulu sering aku pakai bersama Cherry sebagai tempat kami ML sepulang sekolah. Saat itu Vany sepertinya mengerti, menatapku yang nyengir sambil menatapnya dengan tatapan meminta. Vany menggelengkan kepala.

“Dasar mesumm…” bisiknya. Tapi ia menggandengku masuk ke kelas itu. Aku menutup pintu di belakangku perlahan. Kelas ini tak memiliki jendela ke arah dalam, hanya ke arah luar, itu pun agak tinggi di atas, karena ruang ini sebenarnya adalah bekas gudang yang diubah menjadi kelas. Dan karena terletak di ujung koridor dan agak jauh dari kelas-kelas yang lain, maka mendesah sekencang apa pun akan agak susah terdengar.

“Emang gapapa, Kak di sini? Kalo ketauan orang gimana?” tanyanya. Aku merangkul adikku. “Gapapa… Aman koq. Kakak udah pake kelas ini sejak kelas 3 SMP,” jawabku. Vany terbahak dan memukul lenganku. “Sama Cherry apa Grace?” “Pernah dua-duanya,” jawabku tenang. Vany tertawa lagi. “Lebih sering sama Cherry kan pasti…” bisiknya. Aku tertawa dan mengangguk. “Cherry lebih heboh,” kataku bercanda. “Tapi Tasya pernah bilang katanya dulu pas Kakak ML di rumahnya, heboh banget MLnya sama Grace,” kata Vany. Aku terkejut. “Natasha juga suka intipin Kakak sama Grace??? Astagah kalian!” ujarku. Vany terbahak-bahak. “Kita pengen tau lah, Kaaak…” jawabnya manja. “Ah si Tasya enak tuh udah bibirnya sama seksinya sama Grace, diajarin langsung lagi. Aku kan cuma belajar dari ngintip doank.” “Kamu juga udah hebat koq tapi, Van…” kataku. Vany nyengir. “Kakak yakin ini aman?” tanyanya sekali lagi. Aku mengangguk, meyakinkannya.

Vany tersenyum, berjalan ke arah deretan meja yang ada di tengah ruangan, dan menyenderkan dirinya ke salah satu meja. Posenya seksi sekali; kedua tangannya bertumpu ke meja, tersenyum manis sekali padaku. Aku berjalan perlahan ke arahnya, mendekatkan wajahku hingga berjarak sangat dekat dengan wajahnya. Aku bisa merasakan nafasnya yang agak tegang.

“Kakak tuh… Nafsunya gede banget deh…” bisiknya. Ia membelai wajahku lembut. Kami berciuman, lembut tapi penuh nafsu. Lidah kami saling berbelit, berdecak memenuhi ruangan itu.

Perlahan, jemariku mulai merayap naik, meremas kedua dada adikku yang montok dan penuh susu, menggosok dan memainkannya dengan nikmat. Aku merasakan desahan mungil keluar dari mulut Vany, menikmati remasan dan rangsanganku pada dadanya.

“Mmh… Kak…” desahnya. Tangannya yang mungil merogoh selangkanganku, mengelus tonjolan keras di baliknya. “Gede banget…” “Kamu itu yang gede banget…” bisikku, terus menciumi leher kurus adikku sambil meremas dadanya dengan lembut, beberapa kali mengelus perut buncitnya yang keras. Vany menggelinjang tiap kali aku menyentuh titik-titik tertentu yang merangsangnya; benar, adikku ini lebih mudah terangsang saat ia hamil. Apa semua wanita hamil memang seperti itu?

Aku menegakkan badanku sedikit. Vany telah terduduk di atas salah satu meja, sedikit terengah. Tangan kirinya menopang perutnya yang buncit. Saat itu aku melihat bercak basah pada kemeja putih adikku, tepat pada bagian puting susunya. Aku nyengir nakal.

“Van… Kamu baru digituin masa udah keluar susunya?” tanyaku menggodanya. “Aaa… Kakak kan ngeremesnya heboh… Gimana ga keluar,” jawab Vany sedikit malu. Aku tersenyum, membuka kancing kemejanya perlahan. Benar saja, BH biru muda yang dikenakannya telah basah oleh susu. “Hmmmhhh… Vannnyy… Kamu seksi banget, sayang…” kataku. Kubenamkan wajahku pada belahan dadanya yang 34 DD itu. Empuk dan lembut sekali. Aku merogoh ke belakang punggungnya, membuka kancing dan melepas BH adikku.

Aku mundur dan terdiam sebentar. Tak pernah aku habis pikir bagaimana adikku bisa memiliki payudara sebagus dan sebesar ini; putih mulus tanpa cacat sedikit pun, montok dan sungguh bulat menantang. Putingnya coklat kemerahan pun telah sangat tegang. Sekali lagi, aku membenamkan wajahku dalam keempukannya.

“Aah… Kak… Jangan buru-buru donk…” desahnya perlahan. Kumainkan kedua putingnya perlahan-lahan dengan telunjukku, membuatnya semakin kegilaan. Air susu sesekali menyemprot dan mengalir dari putingnya. Kuremas dada adikku kencang-kencang sekali lagi hingga susunya benar-benar menyemprot keluar. Vany menggelinjang dan mendesah setiap kalinya. “Van… Kamu makhluk paling seksi yang pernah kakak kenal,” bisikku. Vany tersenyum dan membelai rambutku, mengecup keningku. Ku sedot putingnya bergantian, meminum susunya dengan nikmat, sementara tanganku membelai perut hamilnya yang mulus. Penisku terasa berdenyut-denyut, minta dibebaskan dari bekapan celana dalam yang sempit.

“Mmhh.. Nnhh.. Kaa… K… Jangan nafsu-nafsu minumnya… Ooh…” desah Vany. Lidahku memainkan kedua putingnya, memelintirnya dan menyedot setiap tetes yang keluar dari dalamnya. Rupanya Vany tidak tahan dibegitukan. “Kakk… Kakk… Mmnnnhhh!!!!! Mmmhh!!!”

Sejumlah besar susu menyemprot ke dalam mulutku. Aku tahu Vany telah mencapai klimaksnya yang pertama. Tanganku bergerak pelahan mengelus perutnya dan merogoh ke selangkangannya… Benar saja; celana dalamnya telah basah kuyup.

“Ohh… K… Kakk…” desah adikku terbata. Aku mengecup bibirnya. “Lanjut ya, sayang?” kataku. Vany mengangguk, tersenyum.

Ciumanku bergerak dari bibir ke rahang dan leher adikku, ke kedua dadanya yang super besar dan lembut, hingga ke atas perutnya yang buncit. Kubelai lembut perut adikku, mengecupnya sekali lagi dengan sayang.

“Mmh… Perut kamu gede tapi bagus banget, Van…” kataku. Vany tertawa. “Kakak demen banget ya sama perutku? Padahal buncit gitu,” katanya imut. “Seksi tau…” jawabku sungguh-sungguh. Vany nyengir. “Sini, Kak… Gantian!” Vany turun dari meja dan perlahan berlutut di depanku.

Ia membuka kancing dan retsleting celana jeansku, membiarkannya jatuh ke lantai. Penisku yang tegang langsung menyembul keluar dari balik celana dalamku, mengacung tepat ke wajah adikku. Tanpa aba-aba, Vany langsung menyedotnya dengan bersemangat. “Oohh Vann… Astagah.. Pelan-pelann…” “Mm… Cp… Kakak dabi juga… Mmmhh.. Ga belan-belan… Mmmm… (Kakak tadi juga ga pelan-pelan)” jawabnya dengan mulut penuh. Kepalanya bergerak maju-mundur mengulum penisku. Lidahnya bergerak liar menjelajah bagian bawah penisku. Enak sekali. “Mmmnnhh… Aahh.. Vann… Vanny…” desahku.

Vany melepaskan penisku dari mulutnya, membiarkannya jatuh di atas dadanya yang luar biasa montok dan bulat. Ia mengangkat dadanya dengan kedua belah tangannya dan mulai menjepit penisku di antara keduanya. Adikku ini memang spesialis titf*ck. Belum pernah ada cewek lain yang seenak Vany melakukannya. “Oohh.. Nnghh… Vann… Kamu emang paling enak…” erangku keenakan. Vany nyengir sambil terus menggerakkan dadanya naik-turun, meremas dan memijat penisku dalam keempukan dadanya. Rasanya aku memang tak dapat bertahan lama dibeginikan. “Kalo diginiin gimana, Kak?” goda Vany. Tangan kiri Vany menekankan perutnya yang buncit ke atas, sementara tangan kanannya memegang dadanya dan menjepitkannya lebih erat membungkus penisku. Ini luar biasa; sensasi lembut dan keras perut hamilnya dipadu dengan empuknya dada adikku yang luar biasa besar. Tanpa sadar aku menggerakkan pinggulku maju-mundur, menggosokkan penisku semakin cepat. Aku tak tahan. “Nggghhh!! V… Vaan… VannnnNN!!!”

Crott… Crrroootttt…. Cccroottt… Spermaku seolah tak mau berhenti meledak, melumuri wajah imut adikku dengan cairan kental putih, mengalir turun membasahi dada dan perutnya juga. Aku merosot bersandar pada meja di belakangku. “Mmm… Kakak selalu ga tahan kalo digituin,” kata Vany seraya menjilat sisa sperma di sekitar mulutnya. Ia kembali duduk di atas meja, dan dengan ekspresi polos Vany mengusap dan meratakan cairan kental yang melumuri perut dan dadanya yang montok itu, seolah spermaku sejenis krim; pemandangan yang membuat penisku tak menjadi lemas sedikit pun.

Aku berdiri perlahan, melumat bibir adikku dengan nafsu, mendorongnya hingga terlentang di atas meja. Vany tersenyum.

“Ayo, Kak… Langsung aja…” pintanya lembut. Aku tersenyum dan menurutinya.

Kubuka kancing rok SMP adikku, membukanya dan membiarkannya merosot ke lantai batu. Perlahan, aku menarik celana dalamnya yang basah kuyup dan melepasnya. Vany mengangkat kedua pahanya yang montok dan mengangkang lebar-lebar di depanku. Aku meletakkan penisku di bibir vaginanya yang tembem dan mulus dengan bulu yang sangat halus. Perlahan, kumasukkan kepala penisku yang merah padam ke dalamnya. Vany menggrunjal sedikit.

“Mmhh… Kakk…” desahnya, menggeliat merasakan batang penis kakaknya perlahan-lahan memasuki vaginanya yang sempit dan hangat hingga mentok.

Tanpa menunggu lagi, aku segera menghujam-hujamkan penisku ke dalam tubuh Vany. Adikku menggeliat, mendesah, mengerang keenakan setiap kali penisku bergerak masuk, semakin lama semakin cepat. “Ohh… Nnhhh… Vann.. Vann… Vanny…” kataku berulang-ulang. Vaginanya yang becek dan lembut benar-benar nikmat membungkus penisku. “Ahh.. Aaahh… Ahhh Kakk.. Nnggghh!!” Vany mengerang, satu tangan mencengkeram pundakku, yang lain mengelus perutnya yang buncit.

Kuremas dadanya kuat-kuat hingga susunya menyemprot, kumainkan puting kirinya yang sensitif dengan jemariku, membuat Vany memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya menahan rangsangan. “Oohh.. Kakk.. Kak aku ga bosen bosen digituin.. Ahhh…” desahnya. Keringat membanjiri tubuh kami. Gerakan pinggulku semakin cepat menghujam vaginanya. Nafas kami memburu. Penisku berdenyut-denyut, menghantam-hantam mulut rahimnya yang sedang mengandung anakku. “Aaahh.. NNhhh!! Ooh Kakk.. Kakak… Mmmnhh!! Aaahh…” Vany menggeletar, badannya semakin menegang. Ia mengapitkan kedua kakinya ke pinggangku. Vaginanya mengencang, menjepit penisku lebih kuat lagi. Aku tahu Vany sudah tak tahan. “Van… Vann tunggu bentar Kakak juga.. Nnggghh juga udah mau keluarr…” “Ga ku.. kuattt… Kaaaakk… KKkk… Aaaahhh…!!!”

Vany orgasme dan squirting berkali-kali kencang sekali hingga aku harus mencabut penisku dari vaginanya. Tubuh mungil adikku gemetar hebat sekali setelah itu, tapi aku benar-benar belum puas menikmatinya; padahal tadi sudah tinggal sedikit lagi aku mencapai klimaksku juga. Tanpa menunggu lama, aku segera memasukkan lagi penisku ke dalam vaginanya, dan kembali menggenjot adikku dengan nafsu.

“Aahh.. Hhh.. Kakk.. Kakkk nafs.. nafssuu banget de…hhhH!.. Aaahh pelan-pelan kakk..” desah Vany tak karuan. Tangannya mencengkeram tepi meja, susu menyemprot dari putingnya, dadanya yang super besar dan perutnya yang buncit berguncang-guncang seirama tusukan penisku.

“Mnnhh.. Vann.. Vanny kuarin jurus kamu donk… Nngghh…” pintaku. Vany mengangguk, wajahnya menegang, berkonsentrasi, dan sebentar kemudian serangan itu datang! Penisku serasa seperti diserang bergelombang-gelombang pijatan bertubi-tubi. Ini dia yang kutunggu. “Oohh… Vaann.. Vannyy!!! VANNN!!!”

Aku meledakkan spermaku berkali-kali ke dalam rahimnya. Nikmatnya tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Aku memejamkan mata, menahan nafas, membiarkan spermaku terus keluar hingga bulir terakhirnya di dalam tubuh Vany.

Kucabut penisku, dan segera terlihat cairan putih kental yang mengalir perlahan dari dalam vagina adikku, melumuri anus dan menetes ke meja. Aku merosot, tersengal mengatur nafas, duduk bersandar pada meja di belakangku. Penisku ngilu rasanya, tapi seperti biasanya, belum menunjukkan tanda-tanda melemas setelah dua kali keluar. Tubuhku tak pernah puas menikmati Vany.

Saat itu Vany turun dari meja, menegakkan dirinya, dan berjongkok persis di depanku. Vaginanya yang basah kuyup, masih meneteskan spermaku, berada beberapa senti di atas kepala penisku. “Lagi, Kak… Aku belom puas… Tanggung jawab…” perintah Vany sambil mendekatkan wajahnya padaku. Aku tersenyum, melumat bibir mungilnya lembut. Tanganku merogoh ke pantatnya yang montok, membimbingnya turun.

Vaginanya membungkus penisku erat saat Vany menurunkan pinggulnya perlahan. Hangat dan lembut sekali rasanya. Vany mulai bergerak naik-turun perlahan; perutnya yang buncit dan mulus menggesek perutku setiap kalinya. “Nnhh.. Mmhh… Vannn.. Enak banget.. Mmhh…” desahku.

Vany menikmati sekali posisi ini. Ia memejamkan mata, menggigit bibirnya. Tanganku bergerak, meremas-remas pantatnya yang montok dan padat sambil membantunya bergerak naik-turun. Dada Vany yang besar menekan dadaku, membuat susunya mengalir keluar dan membasahiku. Kucium, kujilat leher adikku dengan nafsu.

“Aaahh.. Kakkk… Kenapa posisi ini enak.. Bangett sihh… Nnhhhh” desahnya. Ia mencium pundak dan leherku, tangannya mencengkeram erat punggung kakaknya.

Aku mempercepat genjotanku ke dalam vaginanya. Vany mengerang, menekankan kepalanya ke pundakku. “Kakk… Kakak… Nnnnnhhh…” “Mau keluar, Yang??” Vany mengangguk liar, memelukku semakin erat. Aku dapat merasakan vaginanya menyempit, menjepit penisku kencang-kencang. Aku menusukkan penisku lebih cepat dan kuat. Vany menggelengkan kepalanya. “Mmmmmmmmnn… Nnnnn… NNNHHaaaaaHH!!!” Dengan lenguhan panjang Vany orgasme untuk ketiga kalinya siang ini. Aku dapat merasakan cairan vaginanya yang dingin meledak keluar, menyiram penis dan pahaku. Susunya pun menyemprot banyak membasahi dadaku.

Kucabut penisku dari vaginanya dan mengarahkannya ke dalam anus adikku. Vany menjerit kecil ketika penisku menerobos anusnya yang luar biasa sempit dan mulai menghujam dengan kuat ke dalamnya. Ini enak sekali. Aku merosot hingga tiduran di lantai, sementara Vany terduduk di atasku, bergerak sesuai irama genjotanku. Dadanya berguncang-guncang menggiurkan.

“Aaahh… Ahh Kakk.. Nnhhh… Kakk… Mmhh..” desah Vany sambil mengelus perutnya. Tangan kirinya meremas dan memainkan dadanya sendiri, menyemprot-nyemprotkan susu keluar. Kucengkeram pantat Vany. Anusnya sangat ketat menjepit penisku, membuatku tak bertahan lama.

“Van.. Ohh.. Hhh.. Hhh… Vannn Kakak mau keluarr…” “Kak… Kakk… Kakk.. Nnhh Nnhhh… Akuu jugga… MMmmhhhHH…” “Nngghh.. Vann.. Vannyy… Vannyyy!!! VANNNY!!”

Aku mengerang, tapi Vany ternyata telah mencapai puncaknya terlebih dahulu. Ia menjerit kencang dan squirting kuat-kuat membasahi pinggang dan pahaku, anusnya menyempit lagi. Sedetik kemudian aku orgasme, meledakkan spermaku banyak-banyak ke dalam anus adikku.

Vany roboh ke atasku, terengah, tersengal. Tubuh kami bersimbah keringat. Penisku yang telah lemas kucabut dari anusnya, membuat spermaku meleleh keluar dari dalamnya. Vany berguling turun dan duduk bersandar ke meja di sebelahku, matanya terpejam; dadanya bergerak naik-turun, berusaha mengatur nafas.

“Hh.. Thanks Van…” bisikku setelah beberapa lama. Vany mengangguk lemah, lelah. “Sama-sama…” katanya.

Kami terdiam. Aku mendudukkan diri, melirik arloji, jam 4.15… Harusnya Cherry sudah selesai. Aku menoleh ke adikku, perlahan aku meraba dadanya yang besar. Kudekatkan mulutku ke putingnya dan mulai menyedot susu yang manis dari dalamnya. Vany nyengir dan mendengus tertawa.

“Kak… Belum capek apa? Ntar aku jadi terangsang lagi loh…” katanya lembut. Ia membelai rambutku. “Mmm… Cuma mau minum koq, Yang…” bisikku. Vany tersenyum. Tanganku mengelus perutnya, mulus sekali, enak sekali.

Saat itu tiba-tiba aku mendengar suara pintu dibuka perlahan. Hatiku mencelos. Aku menatap Vany, melihat ketakutan dan keterkejutan yang sama di mata adikku. Kami membeku di tempat. Panik. Tak akan sempat kami memakai pakaian kami. Langkah kaki perlahan mendekat, semakin jelas.

“Astagah Diitt… Udah gue duga lu bakal di sini!!”

Aku hampir pingsan karena lega. Cherry, sahabatku, berkeringat dan terlihat lelah tapi senang, berdiri bertolak pinggang di hadapanku dan Vany.

“Duh Cher… Lu bikin gw jantungan,” ujarku lega. Vany telah tertawa terbahak-bahak di sebelahku. “Lagian lu kacau sih… Hai, Van!” kata Cherry geli. Ia melambai ke arah Vany, yang segera berdiri dan memeluk Cherry erat. “Apa kabar, Cher??” ujar Vany riang. “Baik banget… Wah kamu udah gede banget!” kata Cherry sambil menatap perut adikku. Vany tertawa. “Iya donk udah 5 bulan… Salahin dia nih!” ujarnya sambil menunjukku. Cherry tertawa, membelai perut buncit Vany dengan lembut. Heran, koq bisa ga canggung sama sekali sih? “Yang ini juga gede banget, Van… Bagi-bagi donk!” ujar Cherry sambil meremas dada Vany yang memang super besar. “Eehh!! Cherry!!” seru Vany sambil tertawa dan menghindar. “Heh.. Udah-udah ayo pulang,” kataku sambil memakai celana dan kaosku lagi. Vany mengambil sehelai kaos dan celana pendek dari tasnya dan mengenakannya perlahan.

Kami bertiga berjalan ke arah tempat parkir. Tiba-tiba Vany nyeletuk. “Cher, kamu… Agak beda deh,” “Hm? Beda gimana?” “Ya kan Cher! Emang gw ngerasa agak ada yang lain dari lu…” ujarku setuju. Vany mengangguk. Rupanya Vany juga melihat ada sesuatu yang aneh dari Cherry. Anehnya, sekali lagi Cherry hanya tersenyum simpul penuh arti.

* * *

Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Terminal 2 Keberangkatan Sabtu, 3 Januari 2009 – 15.00 WIB.

“Sampe ketemu, Ma…” “Ya… Ati-ati ya… Jaga adikmu baik-baik. Bulan depan Mami-Papi kesana.”

Ayah-Ibuku memeluk dan mencium kedua anaknya. Hari ini aku, Vany, dan Cherry akan berangkat ke Singapore. Vany akan tinggal di sana bersamaku hingga setelah melahirkan. Kami melambai dari balik pintu kaca yang memisahkan kami dari Ayah dan Ibu, dan mulai berjalan perlahan menuju ruang tunggu.

“Hmmm… Tinggal di luar negri sendirian enak ga, Kak?” tanya Vany, mengenakan baju terusan warna pink muda ditutupi jaket Adidas putih. Ia berjalan sambil membelai perutnya yang semakin besar, memasuki bulan keenam sekarang (Aku berusaha mengalihkan pandanganku. Celanaku terasa menyempit). Kami sudah tahu bahwa anak yang di dalam kandungan Vany berjenis kelamin perempuan, dan entah kenapa Vany sangat ingin menamainya Ella. “Ya ada enaknya ada enggaknya… Tapi kamu kan ga sendirian,” kataku. “Ada Kakak…” “Ada aku juga…” ujar Cherry riang. Vany tertawa. “Hahaha iya sih…”

Kami berjalan menuju ruang tunggu. Sambil berjalan, aku tak dapat melepaskan pandanganku dari sahabatku. Sungguh, ada yang lain darinya, tapi aku tak dapat menemukan apa. Jelas Cherry terlihat agak menggemuk setelah sebulan di Jakarta, tapi itu wajar karena aku pun menghabiskan sebulan ini untuk makan makanan yang enak-enak di kota kelahiranku. Apa ya? Apa pantatnya tambah montok? Aku jarang bertemu dengan sahabatku ini selama sebulan terakhir, karena kami masing-masing sibuk dengan urusan kami sendiri. Kami bahkan tidak ML sama sekali selama di Jakarta. Aku menatapnya makin tajam, menyelidiki.

“Heh, lu ngapain ngeliatin gue sampe kayak gitu?” hardik Cherry. “Cher… Lu… Seriusan deh ada yang laen. Apa ya?”

Kali ini Cherry nyengir lebar, nyaris tertawa. Tapi heran sekali, Vany juga ikut nyengir!

“Ahh Cherr!! Van! Kalian apaan sih kasi tau donk ada apa!” pintaku tak sabar. Tak kuduga, Vany yang menjawab. “Ella kan bakal punya adik, Kak…” ujarnya riang. Aku melonjak kaget. “HAH?! Hah jangan bercanda kamu, Van!!” aku memelototi sahabatku. “Lu… Lu hamil??” Cherry nyengir, mengangguk. “Udah 3 bulan…” katanya sambil membuka retsleting hoodie tebalnya. Ternyata benar, memang perutnya terlihat buncit dari balik tank top kuningnya. “… Anak lu juga, Dit. Pasti.” “Minggu lalu ke Tante Rina sama aku,” jelas Vany. “Tantenya sampe geleng-geleng waktu tau ini anak Kakak juga…”

Aku tak dapat berkata apa-apa. Bagaimana ini? Cherry juga hamil anakku?

“… 3 bulan, Cher?” tanyaku gelagapan. Cherry mengangguk, tersenyum manis seperti biasanya. Berarti… Berarti sekitar awal-awal aku tahu bahwa adikku juga hamil, sekitar akhir September. Wah ini kacau!

Tiba-tiba aku sadar akan suatu keanehan. Sekali lagi aku mengamati perut Cherry yang buncit.

“Cher, 3 bulan kata lu?” “Ya. Napa mank?” “Koq udah segede itu? Waktu Vany hamil 3 bulan gue liat dari webcam belum begitu keliatan bedanya,” tuntutku.

Cherry nyengir, Vany tertawa terbahak-bahak. Astagah ada apa?

“… Kan kembar, Dit…” “KEMBAR??!!”

Tamat

Semoga sajian cerita sex abg diatas bisa memuaskan keinginan kamu akan hayalan tingkat tinggi mengenai cerita silahkan datang kembali ke berita terbaru ya bro selalu ada hal baru buat kamu semua.

Tuesday, April 3, 2012

Tips Cepat Gemuk

Tips agar cepat gemuk secara alami buat kamu yang punya badan kurus dan ingin menggemukkan badan silahkan di baca artikel di bawah ini, permasalahan orang ini emang berbeda beda ada yang butuh uang cepat ada yang sedih ditinggal pasangan dan ada juga yang pengen banget menambah berat badan tp ga bisa2 nah semoga dengan membaca artikel di bawah ini kamu bisa mendapatka sedikit masukan yang mungkin bisa membuat badan mu semakin gendut dan gendut xixixixixi

Tips cepat gemuk secara alami

1. Olahraga
Dengan olahraga tubuh akan menjadi sehat, sehingga fungsi tubuh pun akan baik. Usahakan setidaknya dalam satu minggu minimal olah raga sekali. Dengan bentuk olah raga yang dapat membuat anda setidaknya berkeringat.

2. Minum susu
Susu selain sehat juga dapat menggemukkan badan anda, khususnya susu full cream. Disarankan untuk minum susu jenis full cream dua kali sehari.

3. Kunyah makanan
Saat makanan di dalam mulut maka kunyahlah sampai halus. Hal ini dilakukan untuk mempermudah kerja lambung. Apalagi makan-makanan yang sulit dicerna. Karena selain di mulut tidak ada lagi gigi di tempa tlain.

4. Makan dengan teratur
Setiap hari makanlah dengan teratur. Selalu sarapan di pagi hari, makan siang tepat waktu kemudian makan malam. Dan di antaranya dapat diselingi makanan tertentu.

5. Jenis makanan
Jenis makanan yang anda makan sesuaikan dengan aktivitas anda. Jika anda seorang yang banyak bergerak maka makanlah yang banyak mengandung karbohidrat atau lemak. Karena jika kelebihan, maka karbohidrat dan lemak akan ditimbun. Berbeda dengan protein yang tidak akan ditimbun tubuh.

6. Tidur yang cukup.
Tubuh kita minimal butuh waktu 8 jam untuk istirahat. Usahakan untuk selalu tidur siang.

7. Kurangi merokok dan begadang.
Apabila kamu merokok, maka kurangi hal tersebut, dan apabila kamu sering begadang maka hilangkan kebiasaan itu.

8. Jika memungkinkan, konsumsi putih telur satu kali sehari.

9. Periksa kesehatan anda
Jika anda pernah gemuk dan kemudian kurus coba cek kesehatan anda. Jika bukan karena penyakit maka setidaknya dengan tips cara cepat menggemukkan badan ini anda sudah ada perubahan dalam waktu satu bulan.

Nah mungkin itu sebagai bahan masukan buat kamu yang pengen banget gemuk secara alami ya semoga impian mu terwujud, oiya kalau masih kurang ini ada lagi buat kamu pertimbangkan saran nya

1. Biasakan mengemil
Ngemil atau alias makan makanan kecil merupakan cara yang tepat untuk mempercepat gemuk. Dengan sering-sering makan makanan ringan/ makanan kecil dapat membantu anda menaikkan berat badan anda. Karena dipercaya dengan cara tersebut banyak orang menjadi gemuk.
2. Naikkan selera makan anda
Karena menaikkan selera makan maka otomatis lambung akan tambah lebar dan mudah lapar. Dengan begitu asupan makan dalam tubuh anda akan naik diiringi dengan berat badan anda. Tetapi hindari makan sambil tidur atau setelah makan tidur. Karena bukannya badan menjadi ideal tetapi perut anda akan menjadi buncit.
3. Hindari kalori yang tinggi
Jika anda ingin cepat gemuk kurangilah makanan yang mengandung kalori yang tinggi. Karena jika anda berniat untuk gemuk akan tetapi malah makan-makanan yang mengandung kalori yang tinggi malah-malah anda tidak jadi gemuk. Disebabkan makanan yang mengandung kalori yang tinggi dapat dengan mudah mengenyangkan perut anda. Maka anda akan selalu kenyang bukannya lapar.
4. Olahraga
Dengan cara mengimbangi olahraga maka tubuh anda akan menjadi stabil dan bisa menambah berat badan. Karena mengimbangi dengan olah raga maka makanan yang masuk akan dicerna dengan cepat, maka otot-otot dalam tubuh anda akan bertambah besar, jadi secara otomatis akan menambah berat badan anda. Kira-kira usahakan olah raga minimal 2 jam seminggu.
5. Hindari rokok
Karena dengan merokok akan mengurangi nafsu makan anda. Jadi dengan begitu tubuh anda malah tidak akan gemuk. Jika memang sudah menjadi perokok aktif, usahakan merokoknya sesudah makan.

Kalau mau info yang lain juga ada seperti tips cepat hamil dan juga tips menurunkan berat badan secara alami jika ada temenmu yang membutuhkan infonya silahkan saja kunjungi halaman di web ini hanya di berita terbaru ya selamat mencoba...

Sunday, April 1, 2012

Cerita Sex Bercumbu Hasrat Pembantu

Cerita Sex kali ini mengusung judul Cerita Sex Bercumbu Hasrat Pembantu nah semoga kamu belum membaca jadi kan bisa baca disini kalau mau yang lain langsung ke kategori cerita dewasa bro atau simak juga cerita panass di halaman sebelumnya, silahkan di baca dan dinikmati cerita sex berikut ini :


Hai para pembaca,saya akan menceritakan cerita yg benar terjadi.pulang sekolah ku lihat jam tanganku menunjukkan pukul 15.00 wib segera aku pulang ke rumah seperti biasa.kubuka pintu rumahku namun aku tidak melihat kedua orang tua,tiba-tiba melintas wanita manis berambut sebahu lebih,bibirnya seksi berumur 25,tidak terlalu tinggi namun mempunyai payudara yg besar hingga bajunya terlihat tertarik ke depan dan yg paling menonjol dari semua itu adalah pantatnya yg padat terisi mengahadap keatas sangat menantang,baru kusadari wanita itu adalah pembantuku yg baru bekerja 1 bulan namanya mbak sari.

"eh,den fauzi(namaku) sudah pulang?"tanyanya, "udah mbak,mbak mama sama papa kemana?" dia menjawab "tadi pergi ke tante siska katanya tantemu sudah melahirkan,dan katanya mereka akan pulang besok" maklum soalnya jarak bandung-jakarta memakan waktu.aku pun beranjak ke kamarku berganti pakaian, inilah kebiasaan burukku apabila tidak ada orang dirumahku aku memilih menggunakan kaos tanpa celana alias setengah bugil,aku rebahan di kasur tanpa terasa aku merasa mengantuk dan tertidur.

Tersadar dari tidurku, kulihat jam menunjukkan pukul 16.30, kulihat pintu kamarku yg terbuka padahal sebelum tidur aku menutup pintu,atau mungkin pembantuku melihat keadaanku, ah masa bodo aku bergegas keluar kamar,tidak ada orang mungkin mbak sari sedang istirahat di kamarnya, aku pun pergi ke kamar mandi yg bersebelahan dengan kamar pembantu.

Saat aku melewati kamar pembantu, kubuka pintu dan terhenyak melihat mbak sari dengan seleting celana terbuka tanpa CD terlihat cairan membasahi celananya sementara bagian atas terlihat buah dada besar sebesar bola sepak menonjol dibawah baju yg terlipat keatas sampai leher,posisinya terlentang. Aku tidak bisa berkata apa apa hanya mengagumi pembantu seksi ini, namun bodohnya aku malah kembali ke kamar dan onani.

Malam pun tiba,seperti biasa aku menonton tv di ruang tengah sambil tiduran dan pembantu ku datang dengan pakaian yg sama dengan yg tadi aku lihat,terlihat celananya masih basah sedikit."den fauzi, lagi nonton apa nich"sambil rebahan disampingku, "lagi nonton nich tapi ga ada yg rame". Ia membalik badan sambil tiduran membelakangiku. Aku sudah tidak tahan lagi melihat pantatnya membelakangiku,akhirnya kuberanikan diri,tanganku gesekan ke bagian bawah memeknya semakin lama semakin keras ku tekan dan terdengar, "achk,,,ah ah ah". Dia menepis tanganku dan berdiri, dia berkata "fauzi mbak sudah lama pengen ngentot sama den, apalagi tadi mbak liat kontol kamu bebas menggantung, boleh kan mbak ngentot ma kamu pliss "aku hanya menatap tangannya yg terus menggoyangkan toketnya. "iya boleh mbak, asal fauzi boleh ngerasain pantat besar mbak ya "tanpa menunggu aba aba dia membuka pakaiannya yg tanpa bh dan cd, dia langsung menarik celanaku dan memaju mundurkan mulutnya yg seksi itu sambil berjongkok, sangat indah melihat bibirnya itu membasahi kontolku dgn ludahnya dan ekpresinya yg nakal sambil tangannya meremas toket yg besar.

Setelah itu aku meminta agar dimasukan ke memeknya, dan dia memberinya dengan goyangan memutar dan memaju mundurkan dgn sangat cepat, hampir saja aku kelepasan kalo tidak aku meminta agar keinginan terbesarku untuk memasukan ke lubang pantatnya yg besar menantang sekali. "den fauzi,masukinnya pelan ya, soalnya belum ada yg coba, kalo memek sari sih udah sering diobok sama sari". akhirnya kumasukan pelan pelan,sangat susah selain lobangnya kecil dan pantat berisi,dan akhirnya masuk juga dia menjerit, rasanya sangat hangat, sangat sempit,masih keset sedikit. Kumaju mundurkan, dia menjerit sambil berkata"ack, masukin yg dalem,,uh,sa,,sakit sedikit,,,angh,oh".sudah 15 menit dia terlihat menikmati, seperti biasa dia meremas toketnya.aku pun sudah tidak kuat lagi,apalagi dia memutar seperti sedang bergoyang erotis...dan croot crot, jebolah pertahananku dan dia kami tertidur sambil dia membersihkan kontol 17cm ini dgn mulutnya.kami pun tertidur dan saat pagi hari ku genjot lagi memeknya sambil santai menonton tv dan minum teh hangat.sekian cerita singkatku.

Gimana bro senang bukaan makanya terus kunjungi berita terbaru untuk membaca terusan dari cerita dewasa nya ....

Cerita Dewasa Cewek Cantik Itu Bernama Niken

Cerita Dewasa kali ini mengambil judul Cerita Dewasa Cewek Cantik Itu Bernama Niken bagi yang sudah membaca ya langusng aja ke kategori cerita dewasa untuk membaca cerita dewasa yang lainnya ya silahakn juga mencari judul cerita sex maupun yang cerita panass semua tersaji buat para penikmat cerita dan pengunjung setia berita terbaru sialhkan langsung di sasak eh di gasak nih mumpung masih anget xixixixixi

Namaku Dedin, umurku sekarang 20 tahun, kejadian ini terjadi pada saat aku masih sekolah di STM di bilangan Jakarta Selatan yang terkenal dengan tawurannya. Waktu itu aku baru mulai semester 3, kelas 2. Seperti biasa sekolahku pulangnya lembur, jam 7.30 malam, dan biasa pulang nggak langsung pulang, aku nongkrong di terminal Blok M. Aku merasa capai banget makanya aku duduk saja sambil merokok, tiba-tiba di depanku lewat makhluk lawan jenisku, cewek itu anggun banget, kulitnya putih bersih, hidungnya bangir, rambutnya panjang tergerai. Wah, pokoknya perfect banget, aku bangkit dan coba menegurnya, ternyata aku nggak punya keberanian, aku cuma bisa diam melihat dia berlalu. Akhirnya kuputuskan untuk balik, aku calling teman-temanku untuk segera balik. Namanya basis, lalu aku dapat duduk santai. Eh, tapi tiba-tiba itu perempuan yang aku lihat tadi kok naik metro mini yang sama seperti yang aku tumpangi, dia naik eh berdiri lagi. Aku coba panggil dia untuk duduk di barisan belakang tempat di mana aku duduk. Dia samperi aku dan kuberi tempat dudukku, aku akhirnya berdiri. Teman-temanku pada menggodaku, aku cuek saja, dan gobloknya aku diam saja sambil melihati dia punya dada. Aku tersenyum dan dia membalas, tapi tetap saja aku nggak berani kenalan, kejadian itu terulang 2 hari berturut-turut.

Pada hari yang ke-4 seperti biasa aku kasih dia tempat dudukku, pas hampir sampai ke tempat di mana dia biasa turun dia memanggilku kebetulan sampingnya kosong, dia bertanya,
"Siapa nama kamu?" aku bilang,
"Dedin", aku gugup,
"Oh, nama saya Niken",
"Oh.." eh dia tanya lagi,
"Boleh nggak niken main ke rumah kamu?"
Dalam pikiranku ini perempuan gila kali ya, baru kenal sudah mau ke rumah saja, aku jawab "Boleh", sudah deh aku diam saja. Pas sampai turun di ujung gang rumahku, eh mati lampu,
"Wah kayaknya bakalan asyik nih Ken",
"Iya ni De", aku terus telusuri gang ke arah rumahku, tetangga pada bertanya,
"Anak mana yang lu embat De?" aku memang terkenal playboy, tapi aku diam saja, sampai aku persilakan dia masuk. Aku kenali dia sama orang tuaku, sudah begitu aku ganti baju, cuci muka, menyiapkan minum, lilin 2 buah.
"Sorry ya agak lama",
"Ah nggak apa kok",
"Eh lu ngga apa-apa main ke sini?" tanyaku,
"Ah ngga apa-apa kok",
"Nanti pacar lo marah lagi",
"Niken belom punya kok", wah kesempatan nih.
"De ngomongnya jangan lo, aku aja ya, niken nggak bisa",
"Oke deh kalau itu maunya kamu."
"De kaki kamu nggak apa-apakan, soalnya tadi Niken lihat kamu jalannya pincang, kena batu ya pas tawuran tadi di sekolah kamu?"
Wah ini perempuan kok perhatian banget,
"Ah it's ok cuma bengkak saja sedikit",
"Niken pengen kamu jangan tawuran, kamu sayangin dong tubuh kamu",
Wah, aku jadi semakin.. dia perhatian banget. Akhirnya kita berdua ngobrol ngalor ngidul, sampai akhirnya dia tanya sesuatu yang bikin otakku ngeres,
"De kamu mau nggak tidur sama Niken?"
"Tidur gimana? bareng? kamu tidur di rumah kamu, dan Dedin tidur di rumah Dedin sendiri, begitu?"
"Nggak, tidur ya.. ML"
Wah, aku langsung menebak ini anak sudah sering gituan nih, soalnya aku juga. Aku coba jawab ngocol,
"Oke, kapan di mana?"
"Gimana kalau hari Jum'at"
"Kamu serius Ken?"
"Iya",
"Keperawanan kamu?"
Dia cerita kalau dulu dia jatuh dari sepeda, ah bagiku ceritanya klise, soalnya aku tahu banget kalau perempuan hiperseks, kepingin ditiduri,
"Oke deh aku bisa bolos, dan lagian ini rumah sepi nggak ada siapa-siapa dari pagi sampai sore",
"Ok Niken akan datang jam 8 pagi."

Hari yang aku nanti akhirnya eh dia datang tapi aku masih tidur, sebab malamnya aku habis mabok, "Dedin, Dedin, Dedin", aku kaget, lalu aku lari dari kamarku untuk membukakan pintu, aku persilakan dia masuk, lalu aku bilang,
"Eh Ken, De mandi dulu ya",
"Iya."
Sebelum itu aku sediakan dia minum, aku juga persilakan dia masuk ke kamarku, tapi dia bilang nanti saja. Aku mandi di kamar mandi kamarku, biasa aku nggak pernah kunci pintu, pas aku lagi mensabuni penisku, eh dia masuk sudah nggak terbungkus sehelai benang pun. Aku bisa lihat itu payudaranya, yang nggak begitu besar. Vaginanya yang ditumbuhi rambut kemaluannya yang rapih, clitoris-nya agak menyembul, aku diam saja waktu dia menghampiriku, dia pegang penisku. "Wow gede banget ni De", padahal penisku belum tegang, dia sentuh lalu dikocok-kocok. Dia jongkok dan dijilatnya penisku, kepala penisku dikulum, lalu langsung tegang sudah. "Wow indah sekali" dia bilang begitu, aku suruh dia terusi, "Aahh teerruuss Keenn", 5 menit berlalu kugendong dia keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah. Aku rebahkan dia ke kasurku lalu kubuka kedua pahanya dan kujilati vaginanya, baunya sih bau vagina perawan, pokoknya aku terus saja jilati vaginanya sambil aku sodokkan jari tengahku. "Aahh Ddee Niikkeenn nnggaak kuuaat", Aku nggak peduli. Tidak lama kemudian aku bisa merasakan lendirnya yang keluar dari vaginanya, aku terus jilati, dia bilang, "Aahh Dee mmaassukkinn sekaarrangg!"

Aku bangkit, lalu kutindih badannya. Aku jilati dulu pentilnya dia semakin buas. Dia raih penisku, dia arahkan ke vaginanya, "Teken De", aku merasakan lubang vaginanya yang masih rada sempit, "Bless.." penisku masuk "Aahh", dia teriak. Aku genjot terus dia menggoyang pinggulnya, sementara aku naik turunkan pantatku, dia keluar lagi, "Aahh Dee Nnniikeenn kkelluuarr llaaggii", semakin licin saja kewanitaannya karena dibanjiri oleh lendirnya, dia mendekapku. Aku gulingkan badanku, bibirku nggak lepas, sekarang dia di atasku, "Ssshh", dia mendesis "Aahh", aku merasa kenikmatan yang hebat waktu dia keluar lagi. Sudah ketiga kali dia keluar, tiap kali dia keluar penisku serasa dikenyot di dalam vaginanya, "Aahh Kenn.." aku merasa hampir keluar. Aku ganti posisi doggy style, aku tekan perlahan, "Aahh.." kami berdua berteriak, nikmat sekali. Tanganku memainkan pentilnya, "De Niken capek kalau posisinya begini", aku ubah lagi, seperti pertama kali. Kakiku di jepit, nggak lama kami berdua mendesis "Ssshh.. Kkenn akkuu kkeelluuaarr.."
"Ssamaa.."

Kita keluar bersamaan, kumasukan semua air maniku di dalam vaginanya, kucabut penisku, dia bersihkan dengan cara menjilati penisku yang masih setengah berdiri, "Aahh, kamu kok pintar banget sih", aku bilang begitu, dia diam saja sambil terus menghisap. Akhirnya kami berdua main lagi, dan itu aku ulang sampai 4 kali sampai sore. sekarang semuanya tinggal kenangan, aku sekarang menetap di AS, dan aku tahu dari temanku yang satu kampus sama dia, dia itu memang "bispak", apalagi kalau lihat orang yang kaya. Biar bagaimana pun De masih "sayang" kamu.

TAMAT
 
[ close ]
Download New Firefox 3 Click here .Firefox web browser faster, more secure and customizable.